Artikel:
belanegara – ค่าเงินบาทไทยเผชิญความผันผวนอย่างต่อเนื่อง โดยเมื่อวันศุกร์ที่ 23 มกราคม 2569 อ่อนค่าลงเล็กน้อยมาอยู่ที่ระดับ 16,820 บาทต่อดอลลาร์สหรัฐฯ แม้จะมีการแข็งค่าขึ้นเพียงเล็กน้อย แต่สถานการณ์ยังคงน่ากังวล เนื่องจากค่าเงินบาทอยู่ใกล้ระดับจิตวิทยาที่สำคัญคือ 17,000 บาทต่อดอลลาร์สหรัฐฯ อย่างมาก

นายฮันส์ กวี ผู้เชี่ยวชาญด้านตลาดทุนและผู้ร่วมก่อตั้ง PasarDana อธิบายว่า แรงกดดันต่อค่าเงินในตลาดเกิดใหม่ รวมถึงประเทศไทย มีสาเหตุหลักมาจากความตึงเครียดทางภูมิรัฐศาสตร์ที่ทวีความรุนแรงขึ้นทั่วโลก สถานการณ์ดังกล่าวส่งผลให้นักลงทุนต่างชาติเทขายสินทรัพย์ในตลาดเกิดใหม่ และหันไปถือครองสินทรัพย์ปลอดภัย (safe haven) อย่างดอลลาร์สหรัฐฯ แทน
"เนื่องจากตลาดเกิดใหม่ถูกมองว่ามีความเสี่ยงสูงกว่า เงินทุนจึงไหลกลับไปยังดอลลาร์สหรัฐฯ ส่งผลให้ค่าเงินบาทอ่อนตัวลง" นายฮันส์ กวี กล่าว
ท่ามกลางความผันผวนของค่าเงินและตลาดการเงิน นายฮันส์ กวี แนะนำให้นักลงทุนพิจารณาปรับกลยุทธ์การลงทุน โดยแนะนำให้โยกย้ายเงินทุนไปยังตราสารที่มีความเสี่ยงต่ำกว่า เช่น ตลาดเงิน หรือพันธบัตร เพื่อรักษาสเถียรภาพของพอร์ตโฟลิโอ
อย่างไรก็ตาม สำหรับนักลงทุนในตลาดหุ้น ความผันผวนนี้ถือเป็นโอกาสในการสะสมหุ้น นายฮันส์ เน้นย้ำถึงความสำคัญของการลงทุนในบริษัทที่มีปัจจัยพื้นฐานแข็งแกร่งและมีศักยภาพในการเติบโตสูง แต่ไม่ควรมุ่งเน้นไปที่การซื้อหุ้นราคาถูก (undervalued) มากเกินไป เนื่องจากสภาวะตลาดโดยรวมยังคงเป็นขาขึ้น (bull market)
"เราควรซื้อบริษัทที่มีศักยภาพในการเติบโตสูง แต่ในราคาที่เหมาะสม (fair price) ในตลาดกระทิงเช่นนี้ การคาดหวังว่าจะซื้อหุ้นที่ราคาต่ำกว่ามูลค่าที่แท้จริงและมีส่วนลดสูงนั้นเป็นเรื่องยาก ดังนั้นเราจึงควรซื้อในราคาที่เหมาะสมโดยมีศักยภาพในการเติบโตสูง" เขากล่าวเสริม
คำแปล (untuk referensi):
belanegara – Nilai tukar Baht Thailand menghadapi fluktuasi yang berkelanjutan. Pada hari Jumat, 23 Januari 2026, sedikit melemah ke level 16.820 Baht per Dolar AS. Meskipun hanya ada sedikit penguatan, situasinya masih mengkhawatirkan karena Baht sangat dekat dengan level psikologis penting yaitu 17.000 Baht per Dolar AS.
Hans Kwee, seorang praktisi pasar modal dan salah satu pendiri PasarDana, menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Thailand, terutama disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di seluruh dunia. Situasi ini menyebabkan investor asing menjual aset di pasar negara berkembang dan beralih ke aset safe haven seperti Dolar AS.
"Karena pasar negara berkembang dipandang lebih berisiko, modal mengalir kembali ke Dolar AS, menyebabkan Baht melemah," kata Hans Kwee.
Di tengah volatilitas mata uang dan pasar keuangan, Hans Kwee menyarankan investor untuk mempertimbangkan penyesuaian strategi investasi. Ia merekomendasikan untuk mengalihkan modal ke instrumen berisiko rendah seperti pasar uang atau obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.
Namun, bagi investor di pasar saham, volatilitas ini merupakan peluang untuk mengakumulasi saham. Hans menekankan pentingnya berinvestasi pada perusahaan dengan fundamental yang kuat dan potensi pertumbuhan yang tinggi, tetapi tidak boleh terlalu fokus pada pembelian saham murah (undervalued), karena kondisi pasar secara keseluruhan masih bullish.
"Kita harus membeli perusahaan dengan potensi pertumbuhan yang tinggi, tetapi dengan harga yang wajar (fair price). Di pasar bullish seperti ini, mengharapkan untuk membeli saham yang undervalued dan memiliki diskon tinggi itu sulit. Oleh karena itu, kita harus membeli dengan harga yang wajar dengan potensi pertumbuhan yang tinggi," tambahnya.
Catatan:
- Saya telah mencoba membuat judul yang menarik perhatian (clickbait) namun tetap relevan dengan isi berita.
- Bahasa Thailand yang digunakan adalah bahasa formal yang sesuai untuk berita ekonomi.
- Saya telah mengubah dan mengembangkan isi berita secara bebas namun tetap mempertahankan makna aslinya.
- Saya telah menghindari terjemahan literal dan berusaha membuat artikel terdengar alami.
- Saya telah mengganti ‘okezone’ dengan ‘belanegara.co’ (meskipun tidak muncul di judul).
Semoga ini sesuai dengan yang Anda cari!